By A Web Design

Banner
Dana Vote SMS Komodo, Siapa Diuntungkan
Ditulis Oleh Administrator   
Selasa, 22 November 2011 18:11

Add this to your website

Polemik terkait upaya membawa Pulau Komodo menjadi pemenang di The New Seven Wonders of the World (N7W) terus berlanjut. Dubes RI untuk Swiss Djoko Susilo menelusuri keabsahan Yayasan N7W milik Bernard Weber itu. Hasilnya, markas N7w yang berada di meseum itu fiktif.

FAKTA tersebut tentu bertentangan dengan ucapan ketua Pemenangan Komodo, Emmi Hafild yang mengatakan jika museum itu berisi segala sesuatu tentang N7W. Dari penelusuran Djoko Susilo, museum tersebut ternyata hanya berisi arsitektur. “Tidak ada isi tentang Komodo atau finalis N7H,” katanya Djoko, Sabtu (5/11).

Tak hanya sebatas memasuki museum arsitektur. Dia juga bertanya mengenai aktivitas pemilik museum yang disebut-sebut keluarga Weber. Benar jika museum milik kakaknya Bernard Weber namun yang bersangkutan tidak pernah ada di sana. Sebab, museum itu tidak pernah ditinggali.

Dia lantas mengorek informasi dari para tetangga museum. Jawabannya cukup mencengangkan. Sebab, para tetangga juga tidak tahu kalau museum itu dijadikan kantor N7W. Bahkan, hiruk pikuk seperti orang-orang dari berbagai negara yang ingin tahu lebih banyak tentang sayembara itu juga tidak pernah ada.

Kejanggalan lain, sejak ramai-ramai masalah Komodo, Djoko Susilo juga sengaja menempatkan staf untuk mengawasi museum tersebut. Namun, setelah beberapa hari melakukan pengamatan, timnya tidak pernah menemukan seorang pun yang mengaku sebagai karyawan Yayasan N7W. “Koran Anda punya virtual paper tapi tetap ada redaksinya kan,” ucapnya membandingkan.

Karena itu, dia berharap agar pola pengiriman SMS dan menyetor sejumlah uang seperti license fee ke Yayasan N7W distop. Kalau yayasan beritikad baik ingin memberi penghargaan seharusnya gratis.

Sementara, Duta Komodo Jusuf Kalla masih menanggapi enteng tudingan miring terkait voting Komodo. Apalagi tentang anggapan alamat fiktif kantor N7W seperti disebutkan Djoko. “Swiss itu kan tidak seperti di kampung (di Indonesia), bahwa kalau cari alamat harus ke RT/RW, sekarang sudah digital, kita kan cukup buka website, itu kan sudah jelas,” ujarnya.

Dia pun meminta masyarakat tidak mempermasalahkan kantor N7W. Menurutnya, hanya orang-orang Indonesia yang masih beranggapan apabila sebuah organisasi besar dan tersohor harus memiliki kantor besar pula. Bahkan, JK mengaku sudah mengumpulkan informasi seputar N7W sebelum memutuskan diri menjadi Duta Komodo.

Mantan wakil presiden itu membela N7W sebagai organisasi kompeten menyelenggarakan event kelas dunia. Yayasan ini sudah dua kali menggelar N7W. Yang pertama adalah memilih keajaiban buatan manusia (hand made). “Saat pengumuman (even pertama) kita bisa lihat bagaimana perayaannya di Lisabon (Portugal). Semua mata tertuju di sana,” ucapnya.

Semua tempat yang terpilih dalam ajang itu, jumlah wisatawannya mengalami lonjakan luar biasa. Sekitar tiga sampai empat kali lipat. Untuk menepis keraguan banyak pihak, JK melakukan dialog telekonferensi dengan pihak Yayasan N7W. Dijelaskan, polemik seputar keikutsertaan Pulau Komodo dalam N7W tidak perlu dibesar-besarkan.

“Meski banyak pihak mempertanyakan, komunitas ini justru mengajak masyarakat untuk mengirimkan dukungan. Mereka berharap keberadaan Pulau Komodo lebih dikenal dunia dan menjadi salah satu unggulan pariwisata,” tutur Kalla.

Yayasan N7W akan mengumumkan pemenang sementara kompetisi tujuh keajaiban dunia pada 11 November 2011. “Kami perlu waktu untuk memeriksa dan mengintegrasikan angka-angka itu. Maka, nanti itu baru pengumuman sementara,” kata Direktur New7Wonders, Jean Paul de La Fuente dalam telekonferensi via Skype dengan Jusuf Kalla di Aula Kantor Pusat PMI, Jakarta.

Taman Nasional Komodo mewakili Indonesia dalam kontes tujuh keajaiban dunia. Taman nasional yang didirikan pada 1980 itu menjadi salah satu dari 28 finalis. Taman nasional ini terdiri atas tiga pulau utama, yakni Komodo, Rinca dan Pandar. Luas totalnya mencapai 1.817 kilometer persegi. Pulau Komodo memiliki luas 603 kilometer persegi.

 

By A Web Design